Selasa, 10 Mei 2011

MANFAAT ULAR BAGI KESEHATAN

ARTIKEL KESEHATAN :

BISA ular secara garis besar dapat kita kategorikan dalam dua jenis, yaitu neurotoxin dan hemotoxin. Neurotoxin adalah racun yang melumpuhkan sistem pernafasan dan merusak otak korban. Adapun hemotoxin adalah racun yang merusak sel-sel hingga darah menggumpal dan berujung pada kematian.

Bisa ular juga mengandung berbagai enzim berbahaya, namun bisa pula sangat berguna. Sedikitnya terdapat 20 jenis enzim pada bisa ular. Komposisi masing-masing enzim berbeda-beda, tergantung jenis ularnya. Salah satu enzim yang terdapat dalam bisa ular adalah proteinase. Gigitan ular yang mengeluarkan bisa yang mengandung proteinase akan menyebabkan jaringan kulit dan otot si korban mati secara cepat.

Tapi, menurut sebuah penelitian di Australia, dalam dosis tertentu enzim proteinase dapat mengobati kanker. Enzim lain yang cukup populer ada pada bisa ular adalah cholin esterase. Enzim ini biasanya menyerang sistem saraf dan membuat otot menjadi kendur. Nah, enzim cholin esterase dapat digunakan untuk mencegah serangan jantung dan stroke. Norbert Zimmermann, seorang ahli pengobatan dari Bottrop Jerman, melakukan riset terhadap bisa ular untuk mengobati alergi.

Caranya, memasukkan alergen yang ada dalam bisa ular ke dalam tubuh pasien secara bertahap dalam dosis ringan. Lalu, dosisnya akan terus dinaikkan hingga tubuh pasien menciptakan kekebalan atau antibodi terhadap zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Cara ini akan meningkatkan kekebalan dalam tubuh. Di Indonesia, belum ada penelitian tentang manfaat serum atau organ ular lainnya bagi pengobatan. Sejauh ini, maraknya pengobatan dengan menggunakan organ ular lebih kepada pengalaman saja. Misalnya, pengobatan yang dilakukan sinse Robert yang buka praktek di Yogyakarta. Sejak umur 8 tahun, dia sudah hidup beradaptasi dengan ular.

Sepanjang pengalamannya, ia mengetahui empedu ular kobra punya banyak kegunaan. “Misalnya meredakan panas, membuat kulit menjadi bagus, jantung menjadi kuat, paru-paru menjadi bagus,” ujarnya. Prinsip pengobatan memakai organ ular adalah melawan penyakit dengan menggunakan zat berbahaya. Tapi ada juga yang berpendaat lain. Salah satunya, William Adi Teja, ahli pengobatan di Oetomo Chinese Medical Centre. Menurut master dari Beijing University of Chinese Medicine itu, dalam teori Chinese Medicine, penyakit berbahaya memang bisa disembuhkan dengan racun. “Tetapi jangan ditelan mentah-mentah. Bagaimana racun berbahaya itu diramu sehingga menjadi obat, dan berapa dosisnya, itu yang belum diketahui secara pasti ilmunya,” ujarnya.

Sumber: Click here

MITOS DAN KESEHATAN :

Tentang Ular Cobra ....
Mengonsumsi darah ular atau binatang lain seperti biawak, trenggiling, otak monyet, dan kalong, diyakini mampu meningkatkan libido pria. Meskipun bisa dipakai sebagai obat berbagai macam penyakit, namun tetap saja mendongkrak libido menjadi tujuan utama konsumennya.Malam belum lagi larut di Jl. Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, yang masih menyisakan rintik hujan. Lampu-lampu jalan terlihat nanar, tersaput asap kendaraan bermotor yang lalu lalang menikmati Jakarta yang terasa sedikit dingin malam itu.Beberapa puluh meter dari hotel ‘jam-jaman’ yang biasa di-booking pria ‘hidung belang’ dengan pasangannya, terlihat sedikit kesibukan di sebuah tenda yang ditutup dengan kain lebar mirip spanduk bertuliskan khasiat ular kobra dan trenggiling yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti kencing manis, darah tinggi, jantung, haid tidak teratur, dan masih sederet panjang daftar penyakit yang bisa disembuhkan setelah meminum darah atau empedu ular kobra.

Di meja ditata beberapa botol arak dan madu yang dipakai untuk mencampur darah dan empedu ular kobra agar hilang rasa amis, anyir, dan pahit. Di dekat meja, pemilik meletakan kotak berukuran sekitar 1 m2 berisi puluhan ular kobra, baik yang jenis biasa maupun king cobra. Sementara anak buahnya terlihat membakar daging ular yang kemudian disantap pengunjung setelah mereka menenggak darah dan empedunya.

“Sate ular ini biasanya dimakan sebagai syarat saja. Ada juga pembeli yang tidak mau makan sate kobra, mereka hanya minum darah dan empedunya. Dagingnya biasa kita buat sate dan dijual Rp800 per tusuk,” ujar Uwi alias Safari, 38, pemilik Uwi Kobra kepada Bisnis.
Menurut pria yang sudah berjualan ular kobra dan trenggiling di kawasan Mangga Besar sejak 1984 ini, setiap harinya dia bisa menjual minimal 10 ular kobra dalam berbagai ukuran dengan harga bervariasi. Untuk ular kobra biasa, berukuran kecil, harganya dipatok Uwi Rp25.000 per ekor. Sedangkan untuk King Cobra, Uwi mematok harga Rp750.000 per ekor.“Untuk trenggiling, harganya dihitungnya per kilogram, dimana per kilogramnya kita jual Rp110.000. Minimal sehari saya bisa menjual 10 ekor kobra.

Nah, kalau pas musim liburan panjang dan banyak turis Taiwan datang ke sini, saya bisa jual banyak. Mereka senang melahap ular kobra, baik di sup maupun dibuat sate,” tuturnya.Memang, demikian penuturan Uwi, sebagian besar pelanggannya adalah orang ‘keturunan’. Namun bukan berarti pribumi tidak suka mengonsumsinya. Sebab, konon kabarnya darah dan empedu ular kobra akan mampu membuat seorang pria ‘tahan lama’ di ranjang dengan pasangannya. Tidak hanya itu, gangguan impotensi pun bisa diatasi secara bertahap dengan mengonsumsi darah dan empedu ular jenis ini. Inilah yang membuat banyak pria berbondong-bondong mendatangi tempat penjualan darah ular kobra di bilangan Mangga Besar Tahan lama.

Seperti dialami Suryana Pratama, 26, karyawan di sebuah perusahaan interior yang mengaku mengonsumsi darah dan empedu ular seminggu tiga kali dengan rata-rata uang yang dikeluarkan Rp250.000 hingga Rp300.000 sekali makan.“Hasilnya sungguh luar biasa. Saya bisa ‘main’ sampai tiga kali berturut-turut dengan pasangan saya. Selain itu, badan juga terasa fit dan tidak mudah lelah. Selain darah ular, saya juga suka menyantap otak monyet,” kata pria dengan badan yang memang terlihat sehat.

Kecenderungan minum darah dan empedu ular kobra tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan kota besar lainnya seperti di Surabaya, Medan, Denpasar, dan Semarang. Di Semarang, Bisnis sempat mengunjungi Istana Raja Kobra, warung sekaligus rumah milik Sapto Miharjo, perintis pengobatan ramuan ular kobra dan penyedia masakan olahan daging ular dan biawak di bilangan Barito.Rumah sekaligus warung dengan pagar dan kayu penyangga yang bercat hijau muda itu begitu bersahaja menyapa setiap tamu atau pelanggan yang hadir.

Usai melalui pagar, kita langsung disambut deretan kursi panjang dan meja khas warungan. Beberapa penggorengan besar dan alat-alat masak usang nampak berjejeran dengan kompor besar yang mati berdiri kukuh di sudut sebelah kanan.Sedang di sudut kiri pintu masuk terdapat sebuah kandang besar dari bambu dan anyaman kawat didepannya beberapa ember berisi air dan setumpuk buntelan kantung plastik.

Di sebelah atas tumpukan buntelan itu tergantung bulatan kecil-kecil berwarna hitam yang tak lain adalah empedu kering ular dan biawak.Tentang buntelan remeh tergeletak di samping ember itu Bisnis ingatkan untuk tidak usil menjamahnya. Sebab sekitar enam ular dari jenis naja sp (kobra lokal) dan ophiophagus hannah (king cobra)-yang sedang berganti kulit itu sangat sensitif-tersebut akan dengan senang hati untuk menyemburkan racunnya ke mata Anda atau mematuk kulit kaki Anda.

“Kalau yang tiga itu king cobra sudah dipesan oleh pengusaha Korea untuk diambil usai Lebaran,” ujar Sapto yang biasa disapa Totok yang pengalaman menangkap ular sejak 1977.

Siang itu dirinya baru saja usai menyembelih seekor kobra lokal seukuran dua meter untuk diambil darah, empedu, sumsum dan tangkurnya sebagai sarana kesembuhan salah seorang pasien dari Kota Demak. Seperti yang sudah-sudah dirinya selalu mendapat pasien dalam kondisi sudah sangat parah dan mengaku sudah menyerah dengan pengobatan ala kedokteran untuk Segala penyakit Selain untuk surungan (minum alkohol lokal, Cong Yang) daging ular biasa (bukan kobra) menurut Totok berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit.Sedangkan ular dari jenis kobra selain dinikmati sebagai surungan, menurut Totok memiliki banyak khasiat a.l darah untuk darah rendah, daya tahan tubuh lemah; empedu untuk berkhasiat untuk menyembuhkan hampir semua penyakit berat seperti kanker, paru-paru, tumor, dan penyakit berat lain; sumsum digunakan untuk menyembuhkan rematik, pengapuran, asam urat dan cepat lelah; tangkur dipercaya mampu mengatasi impotensi sedangkan kulit- dalam bentuk bubuk dicampur kopi-untuk mengobati luka yg lambat menutup.

“Tetapi saya mengharapkan agar calon pengguna ramuan sebaiknya memeriksakan dirinya terlebih dahulu secara medis, semisal tekanan darah,” paparnya.Totok menjelaskan pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan takaran ramuan yang akan diberikan untuk tiga hari berturut-turut pertama. Usai tiga hari pertama, pengguna diharapkan memeriksakan dirinya kembali ke dokter.

Pemeriksaan itu selain untuk melihat hasil pengobatan juga untuk melihat ulang takaran ramuan, juga karena ramuan ini terhitung mahal bagi masyarakat yang kurang mampu.Ramuan ala Totok sebenarnya cukup sederhana yaitu merupakan campuran dari bagian tubuh kobra darah, sumsum, empedu dan tangkur ditambah madu dan anggur kolesom.Penggunaan anggur kolesom yang berkadar alkohol rendah itu dimaksudkan untuk mempercepat penyerapan saripati dari ramuan tubuh ular kobra tersebut.

Setiap satu ramuan tersebut, dirinya mematok harga kobra lokal tak lebih dari Rp25.000 sedangkan king kobra dipatok harga Rp500.000. Harga itu terhitung sangat murah jika dibandingkan harga yang dipatok oleh penyedia ramuan darah kobra di kota-kota lain. Bahkan beberapa diantaranya tega memberikan harga yang berbeda-beda sesuai ukuran ular.“Padahal khasiatnya sama saja baik ular usia tua, ukuran besar kecil. Yang penting ularnya dari jenis kobra.”
Meski tentu saja Totok tidak menampik tetap menjaga dapur rumahnya tetap menyala, harga murah itu adalah bagian dari pelayanan sosial bagi masyarakat.

Mengenai pelanggan Istana Raja Kobra,totok menuturkan cukup banyak pejabat-pejabat di Ibukota dan di Jawa yang turut menjadi pelanggannya. Hanya saja dia mengaku sungkan untuk menyebutkan nama-nama pejabat yang menjadi pelanggannya.

Hanya saja untuk pengolahan yang diinginkan oleh pelanggan, Totok mengaku lepas tangan semisal orang Korea yang memilih untuk merebus 40 ekor ular kobra segala ukuran hidup-hidup dengan 20 liter air selama 24 jam. Sehingga menyisakan air sekitar dua liter.
Sumber : Click here

Tanaman Obat


Daftar Tanaman Obat IndonesiaData tervalidasi oleh Tim CoData Indonesia pada tahun 2000
A
Adas
Adem Ati
Ajeran
Akar Manis
Akar Wangi
Alang Alang
Alpokat
Andong
Angsana
Anting-anting
Anyang Anyang
Apel
Aren
Asam Jawa
Awar Awar

B
Bandotan
Bangle
Baru Cina
Bawang Merah
Bawang Putih
Bayam
Bayam Duri
Belimbing Asam
Belimbing Manis
Belimbing wuluh
Beluntas
Benalu
Beringin
Bidara Laut
Bidara Upas
Biduri
Bligu
Blustru
Boroco
Brojo Lintang
Brokoli
Brotowali
Buah Makasar
Buah Nona
Buncis
Bunga Kenop
Bunga Matahari
Bunga Pagoda
Bunga Pukul Delapan
Bunga Tasbih
Bungli
Bungur
Bungur Kecil
Buni

C
Cabai Merah
Cabai Rawit
Cabe Jawa
Cakar Ayam
Calingcing
Ceguk
Cempaka Kuning
Cempaka Putih
Cendana
Cengkeh
Ceremai
Cincau
Ciplukan

D
Dadap Ayam
Dadap Serep
Dandang Gendis
Daruju
Daun Dewa
Daun duduk
Daun Encok
Daun Jintan
Daun Kentut
Daun Madu
Daun Sendok
Daun Senna
Daun Ungu
Delima

E
Ekor Kucing
Enau

G
Gadung
Gambir
Gandarusa
Gendola
Genje
Ginjean
Greges Otot
Gude

H
Halia

I
Iler
Inggu

J
Jagung
Jahe
Jamblang
Jambu Biji
Jambu Monyet
Jamur Kayu
Jarak
Jarak Bali
Jarak Ulung
Jarong
Jati Belanda
Jayanti
Jengger Ayam
Jeruk Nipis
Jeruk Purut
Jintan Putih
Jintan/Ajeran
Johar
Jombang
Jung Rabab

K
Kacapiring
Kaki Kuda
Kaktus Pakis Giwang
Kamboja
Kapas
Kapasan
Kapulaga
Kastuba
Katu
Kayu Manis (padang)
Kayu Putih
Kecubung
Kecubung Gunung
Kedelai
Keji Beling
Kelapa
Kelingkit Taiwan
Kelor
Kembang Bokor
Kembang Bugang
Kembang Coklat
Kembang Kertas
Kembang Pukul Empat
Kembang Sepatu Sungsang
Kembang Sore
Kembang Sungsang
Kemuning
Kenanga
Kencur
Ketepeng Cina
Ketepeng Kecil
Ketimun
Ki Tolod
Klabet
Kol Banda
Kompri
Kubis
Kubis Bunga
Kucing Kucingan
Kumis Kucing
Kunci Pepet
Kunyit
Kwalot

L
Lada
Landep
Landik
Legundi
Lempuyang Gajah
Lempuyang Wangi
Lengkuas
Lenglengan
Lidah Buaya
Lidah Ular
Lobak

M
Mahkota Dewa
Mahoni
Mamang Besar
Manggis
Mangkokan
Melati
Mengkudu
Meniran
Mimba
Mindi Kecil
Mondokaki
Murbei

N
Nampu
Nanas
Nanas Kerang
Ngokilo
Nona Makan Sirih

P
Pacar Air
Pacar Cina
Padi
Pala
Pandan Wangi
Pare
Patah Tulang
Patikan Cina
Patikan Kerbau
Pecut Kuda
Pecut Kuda
Pegagan
Pepaya
Permot
Petai Cina
Pinang
Pisang
Pohon Merah
Portulaka
Poslen
Prasman
Pulai
Pule Pandak
Pulutan
Putri Malu

R
Rambutan
Rincik Bumi
Rumput Mutiara

S
Saga
Salam
Salvia
Sambang Darah
Sambang Getih
Sambiloto
Sambung Nyawa
Sangitan
Sangketan
Sawi Langit
Sawi Tanah
Secang
Seledri
Semanggi Gunung
Semangka
Sembung
Senggani
Sengugu
Sereh
Sesuru
Siantan
Sidaguri
Sirih
Sirsak
Sisik Naga
Som Jawa
Sosor Bebek
Srigading
Srikaya

T
Tahi Kotok
Tanduk Rusa
Tapak Dara
Tapak Kuda
Tapak Liman
Tasbeh
Tebu
Teh
Tembelekan
Tempuyung
Temu Hitam
Temu Kunci
Temu Putih
Temu Putri
Temulawak
Teratai
Teratai Kerdil
Tomat
Tunjung
Turi

U
Ubi Kayu
Urang-Aring

W
Waru
Wijaya kusuma
Wortel

Informasi ini terwujud atas kerjasama IPTEKnet dengan CODATA ICSU Indonesia
dan telah terealisasi pada tahun 2002